Tanpa Terasa Ternyata sudah Terlalu Tertinggal

Desktop Gnome yang klasik
Standard

Assalamu’alaikum

Kemarin saya baru merasakan pertama kali dalam hidup, OS Linux MiGOS (Minangkabau Go Open Source) yang terinstall mengalami gagal upgrade. Layar hitam menjadi mimpi buruk (halah, lebay lagi lebay lagi) Biasanya saya selalu menyarankan untuk fresh install kepada setiap pengguna Linux apabila OS yang dimilikinya mengeluarkan versi terbaru. 

Berawal dari hasil printer yang tidak begitu bagus, saya kepikiran bagaimana cara membersihkan cartridge di OS Linux. Printer yang saya gunakan Canon Pixma MP258. Coba googling tutorialnya dengan kata kunci How to clean catridge (walaupun dibenarkan oleh Google menjadi Cartridge) printer Canon Pixma MP258  on Linux” , akhirnya dapat. Tapi saya terkendala dengan salah satu perintahnya. Lalu saya lanjutkan juga bagaimana cara menjalankan perintah cnjpij di Terminal. Dan dapat juga. Tapi disini masalah dimulai.

Saya diminta menambahkan PPA kedalam alamat repo. Setelah penambahan alamat PPA selesai dan berhasil di update. Saya diminta juga di tutorial tersebut menginstall aplikasi .deb. Pada saat perintah install paket .deb dijalankan, ternyata Error. Disebabkan beberapa paket penunjang tidak tersedia. Saya diminta untuk menghapus paket .deb itu. Saya coba buka Synaptic Package Manager lalu mencoba untuk menghapusnya dengan cara menandai paket yang error pada saat di install tadi sebagai Mark for Complete Removal . Setelah men reload daftar paket yang ada di synaptic package manager yang maksudnya sama dengan perintah sudo apt-get update, kemudian saya pilih Apply. Anehnya, entah siapa yang membisikannya ke telinga (mencoba horor), padahal saya tahu ada daftar paket aplikasi yang perlu di upgrade, tapi saya beranikan saja untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Dan ternyata, semua daftar paket lama dihapus. Terlihat dari perintah yang sedang berjalan menampilakn kalimat removing. Walaupun paket yang error tadi ikut terhapus, tapi semua paket aplikasi juga terhapus. Disini saya merasa sedih (biar dibilang ngikutin trend). Sekarang, di laptop saya saat ini tersisa satu OS Linux, yaitu Linux Zorin OS 7.

Dulunya saya memutuskan tidak menggunakan Linux Zorin OS 7 karena kinerjanya yang lambat karena terlalu banyak memproses  aplikasi. Terutama compiz, aplikasi mempercantik tampilan desktop di Linux. Tapi karena tuntutan kondisi, setelah diutak-atik, Linux Zorin OS bisa berjalan normal. Setelah saya ganti tampilan desktop nya yang awalnya mirip Windows 7 menjadi Gnome yang sangat klasik. Kinerja prosesor saya yang tadinya bisa mencapai 80 %, ini hanya 14 %. Itu sudah menggunakan aplikasi Google Chrome yang dikenal sangat boros RAM. 

Dan tadi, tidak begitu lama, sekaligus menginspirasi ditulisakannya artikel ini, ternyata Linux Zorin OS 7 sudah sangat ketinggalan. Karena menggunakan repo Linux Ubuntu 13.04. Hmmm, tanpa terasa ternyata sudah terlalu tertinggal. Sudah sepatutnya diganti. Linux Elementary OS Freya, abang dataaaang😀

Kinerja Prosesor hanya 15 %

Kinerja Prosesor hanya 15 %

Tampilan Desktop Gnome dengan Wallpaper Windows XP

Tampilan Desktop Gnome dengan Wallpaper Windows XP

Desktop Gnome yang klasik

Desktop Gnome yang klasik

Linux Zorin OS 7 menggunakan repo Ubuntu 13.04

Linux Zorin OS 7 menggunakan repo Ubuntu 13.04

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s