Cerita dibalik gorengan

Standard

Assalamu’alaikum,

Pagi ini ada sebuah kisah yang kira-kira bisa membuat kita bersimpati. Sebenarnya rutinitas ini sudah lama terjadi dikomplek asrama tempat saya menetap.

Ada seorang nenek yang juga tinggal di asrama ini, berprofresi sebagai penjual goreng. Setiap pagi, tidak lewat dari jam 7 kurang seperempat, beliau sudah mulai menjajakan dagangannya. Diperkirakan usia beliau lebih dari 65 tahun. Berbekal kerajang makanan dan kantong plastik hitam agak besar yang selalu beliau jinjing keliling asrama. Menawarkan goreng kepada setiap rumah, terutama yang terbuka pintunya.

Almarhum mak uo (kakak ibu) saya langganan membeli gorengannya. Tidak di asrama saja, kebetulan komplek asrama saya berbatasan langsung dengan komplek rumah sakit, sehingga dari asrama bisa langsung melintas gang kecil maka sampailah si nenek di rumah sakit. Walaupun ada pengumuman larangan berjualan, tapi si nenek tetap menjajakan gorengannya ke bangsal pasien-pasien.

Dengan badan yang sudah membungkuk, semangat beliau mencari rupiah tak kunjung padam. Gorengannya pun tidak terlalu eklusif, bisa dibilang rasanya standar. Mulai dari goreng tahu, bakwan, ubi jalar dan rambat, serta pisang. Anak beliau ada, malah masing-masingnya sudah berkeluarga. Dan rata-rata mereka tinggal serumah dengan si nenek. Belum lagi cucunya. Bisa dibayangkan, betapa sempit dan pengapnya mereka tinggal dirumah asrama tentara yang hanya punya 3 kamar, dan 1 kamar mandi ini. Jangan dibayangkan 3 kamar itu besar, bahkan ukurannya hanya 4 x 3,5 m saja per kamar.

Tapi apa yang ekslusif ? Yaitu semangat beliau mencari ribuan dari gorengan yang dijajakan. Tidak menampung tangan dari anak dan menantunya. Benar-benar orang tua yang dimasa tuanya tidak merepotkan orang lain. Bagaimana dengan anda ? Semoga Allah memberkahi usahanya. Aaamiiin.

Tadi saya mencoba mengabadikan beliau yang sedang menjajakan gorengan, tetapi hasilnya tidak maksimal. Mungkin cukup dengan memperlihatkan foto gorengan ini, maka anda bisa membayangkan sosok beliau :

image

Wassalam

One thought on “Cerita dibalik gorengan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s