Sweet Moment

Standard

Assalamu’alaikum, 

Sebetulnya postingan ini yang seharusnya saya upload, tapi entah kenapa kepingin mengetik yang lain. Tadi pagi, seperti biasa, jadwal saya pergi belanja. Ada beberapa momen yang bagi saya sangat mengharukan. Kurang lebih membuat saya menangis dalam hati, lebay.

Jadi gini, sembari saya menunggu si tante belanja, saya melihat seorang anak kurang lebih berumur 3 atau 4 tahun, menemani ibunya berbelanja. Tampak ia dan ibunya akan memasuku mobil sedan. Awalnya si anak dengan keluguannya bergegas masuk ke mobil sambil membuka gagang pintu. Tapi karena ukuran badan yang kecil dan jangkauan tangan yang pendek, ditambah lagi antara trotoar tempat si anak berdiri dengan pintu mobil cukup jauh (baca: jauh bagi si anak), pintu pun tak kunjung terbuka. Lalu sang ibu dengan sigap membantu anak tersebut membukakan pintu. Sekarang giliran si anak masuk ke mobil, sang ibu pun memasukkan barang belanjaan ke bagasi belakang mobil. Tapi si anak juga tidak bisa masuk, karena kondisi trotoar yang agak jauh dari pintu, mengakibatkan si anak harus berupa keras untuk melangkah. Apa mau dikata, karena lankah kaki kecil, kakinya pun tertinggal satu di trotoar dan di pintu masuk. Dan sang ibu segera membantunya, dengan meraih pinggang si anak dan merangkulnya masuk ke mobil. Sang ibu pun menyuruhnya membukakan tuas pengunci pintu untuk sisi pengemudi. Benar-benar momen yang mengharukan bagi saya.🙂

Selang beberapa saat kemudian, diseberang jalan tempat saya berdiri. Terlihat sebuah keluarga kecil, ibu, ayah, dan seorang anak perempuan yang sudah dewasa. Tampak sang ayah yang tadinya mengendarai motor bonceng 2 dengan istri dan anak gadisnya itu turun dari motor. Dan posisinya digantikan oleh sang ibu. Tapi, taukah anda apa yang membuat saya menjadikan momen itu menjadikan sesuatu yang paling manis ? Yaitu disaat si anak mencium pipi sang Ayah dengan penuh kasih sayang. ;( Tak berapa lama, si anak kembali naik ke motor yang akan dikendarai sang ibu. Dan sang Ayah pun menyeberang sambil membawa barang untuk kedainya. Ya, sang Ayah berprofesi sebagai pedagang grosiran dipasar tempat saya langganan berbelanja.

Sungguh disayangkan, saya tidak membawa kamera pada saat itu.

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s