Saat-saat perpisahan

Standard

Assalamu’alaikum

Setelah sholat Maghrib tadi, pengurus Masjid di komplek rumah saya, yaitu Ayah sendiri, menyampaikan pengumuman kepada jama’ah. Kurang lebih meminta kepada jama’ah, jangan pulang dahulu sehabis sholat sunnah. Karena ada yang ingin disampaikan, terkait gharin (penjaga) masjid kami.

Setelah seluruh jama’ah selesai mendirikan sholat sunnah rawatib, Ayah mulai menyampaikan kata pengantar. Ternyata penjaga masjid akan berangkat ke Jakarta. Tujuannya untuk meneruskan masa depannya alias merantau. Memang sih belum setahun beliau tamat dari IAIN, tapi mungkin karena tuntutan dalam diri lebih kuat, dan kondisi pekerjaan di Padang tidak bisa merubah keadaannya, makanya beliau memilih merantau.

Bagi saya, menyusun kalimat berpamitan sebelum berpisah adalah hal sulit. Saya juga merasakan apa yang dirasakan oleh gharin itu. Bagaimana tidak, beliau sudah tinggal lama di masjid ini, kurang lebih 2 tahun. Selama 2 tahun itu, pasti beliau banyak bergaul dengan penduduk sekitar komplek. Tidak mudah memang untuk menyampaikan kata maaf sebelum berpisah. Sampai-sampai saya pun tidak bisa mengangkat kepala, karena tidak kuat melihat linangan air mata. Alhamdulillah apa yang saya bayangkan tidak terjadi, ternyata gharin kami sanggup tidak melinangkan air matanya.

Selamat jalan ustadz (sapaan kami dikomplek), semoga apa yang engkau impikan dirantau sana segera tercapai. Tapi jangan lupa, jika engkau berhasil, maka singgahlah sejenak ke Padang.

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s