12 Jalan agar Rezki Diberkahi

Standard

Assaamu’alaikum

Ada yang menarik bagi saya untuk buletin Jum’at siang ini. Walaupun buletin sebelumnya juga tak kalah menarik. Tapi kali ini sangat bermakna , khususnya bagi saya. Sesuai judul diatas, buletin dari PKPU kali ini membahas cara agar rezki kita diberkahi Allah. Sebelumnya, rezki bagi umat Islam bukan hanya harta saja, melainkan umur yang panjang, kesehatan, dan pekerjaan yang halal termasuk rezki. Bagi yang berpendapat jika kekayaan adalah satu-satunya rezki, maka bisa dipakstikan bahwa orang tersebut atau kita telah terjangkit paham kapitalis. Paham yang menganganggap bahwa harta adalah segala-galanya.

Niantnya saya ingin mengetik seluruh isi buletin jum’at yang didapat, tapi dengan sedikit bermodal teknik social engineering dasar, ternyata tulisannya bersumber dari VOA-Islam, ini linknya , jadi saya copas aja 

Kesatu, Taqwa kepada Allah adalah syarat utama agar rezki diberkahi sehingga hidup menjadi tentram. Allah berfirman

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka dari langit dan bumi”  (Al A’raf : ayat 96)

Pada ayat lain juga disebutkan

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertwaqal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya” (Al Thalaq: ayat 2-3)

Kedua, Memperbanyak Istighfar. Allah juga berfirman kepada Nabi Nuh a.s

“Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada mu dengan lebat, dan menambahkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untuk mu kebun-kebun dan mengadakan pula didalamnya untukmu sungai-sungai.” (Nuh : ayat 10-12)

Dan juga dalam hadis rasul bersabda :

“Siapa yang terus menerus beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rezki dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (Hadis Riwayat (HR) Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Ketiga, membaca Al-Qur’an dan mentadabburinya.

Sebabnya, Allah telah jadikan Kitab-Nya sebagai sesuatu yang diberkahi.

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat,” (QS. Al-An’am: 155)

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

Al-Qur’an adalah barakah dalam membacanya. Siapa membaca satu ayat, maka baginya dari setiap ayat satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. (HR. al-Tirmidzi)

Al-Qur’an membawa berkah dalam lantunannya, mengamalkannya, menerapkan hukumnya, dan mencari keadilan padanya, bermoral dengan ajaranya, dan berakhlak dengan akhlaknya.

Keempat, Membaca doa saat keluar rumah dan saat akan menyantap hidangan.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda,

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ

Apabila seseorang memasuki rumahnya; ia berzikir kepada Allah saat memasukinya dan saat makan, maka syetan berkata kepada teman-temanya, ‘tidak ada tempat dan makanan bagi kalian.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad) Allah menjaga rumah ini dari gangguan syetan karena sebab zikirnya ketika akan makan dan saat memasukinya.

Kelima, menjaga shalat bisa mejadi sebab turunnya barakah dan datangnya rizki, karena ia merupakan sebab untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaahaa: 32)

Keenam, Bersyukur terhadap nikmat-nikmat Allah dan mengakui karunia dan pemberian-Nya. Sesungguhnya rizki yang kita peroleh, semuanya dari pemberian-Nya. Maka jika kita bersyukur dengan hati, lisan, dan amal maka Allah akan memberkahi rizki kita. Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Al-Ibrahim: 7)

Ketujuh, memperbanyak shadaqah dan menjauhi praktek riba. Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276

Kedelapan, Yakin dan bersandar kepada Allah di atas sebab yang diupayakan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda,

إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ

Sesungguhnya harta ini menyenangkan dan nikmat. Siapa yang mengambilnya dengan kesederhanaan (tanpa meminta dan rakus), maka diberkahi. Dan siapa yang mengambilnya dengan rakus, tidak akan diberkahi. Dan keadaanya seperti orang yang makan, namun tak pernah merasa kenyang.” (Muttafaq ‘alaih)

Kesembilan, hemat dan tidak berlebihan (melampaui batas) dalam menikmati yang mubah (boleh).

Allah ‘Azza wa Jallaberfirman,

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29)

Allah berfirman dalam menyifati Ibadurrahman, para wali-Nya:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)

Allah sangat mencela orang yang menyia-nyiakan harta dan menggunakannya dalam perkara haram. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)

Kesepuluh, bekerja di waktu pagi hari, tidak tidur pagi kecuali karena sangat membutuhkan.

Disebutkan dalam satu atsar,

“Diberkahi Umatku di waktu paginya.”

Ibnu Abbas pernah melihat anaknya tidur pagi, lalu beliau berkata kepadanya:

“Bangunlah, apakah kamu (senang) tidur pada saat dibagi rizki?” (Lihat: Mathalib Ulin Nuha: 1/62)

Kesebelas, Jujur dalam melakukan transaksi, tidak curang dan tidak pula khianat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Penjual dan pembeli berhak memilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan, diberkahi jual beli keduanya. Dan jika berbohong dan menutup-nutupi maka dihilangkan keberkahan dalam jual beli mereka.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mengutus Urwah al-Bariqi untuk membeli seekor hewan kurban. Beliau memberikan satu dinar kepadanya. Lalu ia masuk pasar dan membeli dua ekor hewan kurban dengan satu dinar. Kamudian dia menjual salah satunya dengan harga satu dinar. Lalu ia kembali kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membawa satu ekor hewan kurban dan satu dinar. Beliau menanyakan hal itu kepadanya, “bagaimana bis begitu?” ia menjawab, “Saya membeli dua ekor hewan kurban dengan satu dinar, lalu saya jual salah satunya dengan harga satu dinar.” Kemudian NabiShallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadanya, “Semoga Allah memberkahimu kejujuranmu.” Kalau saja ia membeli segenggam tanah pasti diberkahi.

Ke duabelas, qana’ah dan ridha dengan pembagian Allah, tidak melihat kepada orang yang di atasnya.

RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam, diberi rizki yang cukup, dan Allah menganugerahkan sifat qanaah kepadanya terhadap pemberian-Nya.” (HR. Ahmad)

Penutup

Sesungguhnya harta yang diberkahi akan membawa kebaikan kepada pemiliknya, tidak melalaikan dan tidak menipunya. Menikmatinya, akan menjadi kekuatan yang mendorongnya untuk melakukan ketaatan, mendatangkan ketentraman jiwa, kepuasan, dan kebahagiaan. Maka jangan hanya mengejar fisik materi. Tapi carilah keberkahan di dalamnya. Karena harta yang tak berbarakah seperti sampah yang tak mendatangkan manfaat bagi pemiliknya. Oleh sebab itu, penting sekali kita memperhatikan sebab-sebab yang menjadikan harta menjadi barakah. Wallahu Ta’ala a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s