Cerita seorang pekerja sosial

Standard

Assalamu’alaikum, 

Hari ini saya seharusnya memiliki jadwal bertemu dengan klien bersama relasi juga, di SMA 10 Padang. Tetapi sesampai dilapangan, ternyata relasi kami tidak sempat hadir, begitu juga dengan klien. Karena pada saat itu lagi ada pertemuan. Otomatis saya pun menunggu, melihat ruang tunggu telah ada orang, kebetulan lawan jenis, alias wanita, maka saya tidak mau menuggu diruang tunggu tersebut, tahukan alasannya apa ? Saya lebih memilih menunggu didekat ruang pusataka.

Kebetulan disana juga ada orang yang lagi duduk, kemungkinan menunggu pula. Dengan sikap ramah, saya minta izin duduk dibangku yang ada disampingnya. Beliau seorang ibu-ibu, berpakaian olahraga, yang ada dalam pikiran saya, beliau pegawai negeri. Dimulailah perbincangan dari ibu tersebut dengan saling memperkenalkan nama, tapi saya kurang dengar siapa nama beliau. Singkat cerita, ternyata ibu itu adalah pekerja di dinas sosial, dan bukan pegawai negeri. Tetapi murni pekerja sosial dari sebuah NGO yang bekerja sama dengan pemerintah dalam bidang kemanusiaan, khususnya anak jalanan, pengemis, putus sekolah dan sejenisnya. Beliau menanyakan keperluan saya, sampailah pembicaraan kami tentang profesi masing-masing.

Ibu itu bekerja murni karena tanggung jawab sosial. Seperti memberdayakan komunitas ibu-ibu PKK, merehabilitasi pengemis dan anak jalanan dengan memberikan keterampilan sehingga bisa mandiri, tidak meminta-minta lagi. Memang disokong oleh NGO luar negeri, tapi berkoordinasi dengan dinas sosial setempat. Tetapi yang unik dari perbincangan kami adalah masalah yang kami hadapi dilapangan tergolong sama. Yaitu masalah birokrasi dan peserta yang ingin dilatih.

Untuk soal Birokrasi, ibu itu mengakui bahwa birokrasi dengan pemerintah sangatlah rumit dan lama. Seolah-olah mengundur niat baik kita. Pernah suatu kali ibu itu melihat orang yang terlantar ditepi jalan pasar, lalu beliau minta bantuan kepada dinas sosial setempat tetapi mereka malah mempertanyakan surat izin untuk mengurusnya. Alhasil, si ibu sendiri yang berusaha memperjuangkan nasib orang tersebut. Belum lagi soal bantuan dana sejenisnya, sewaktu beliau memberikan bantuan gempa, ternyata dari  pegawai internal yang bekerja di instansi terkait malah meminta bagiannya dengan mempromosikan neneknya yang terkena gempa. Kesimpulannya, jika kita tidak ada koneksi dengan orang dalam pemerintah, dapat dipastikan kegiatan yang kita urus bakal tertunda serta makan waktu lama. Tapi begitu pula dengan kita, jika melakukan itu, malah kita yang tidak mengikuti prosedur dan terindikasi korupsi, korupsi prosedur.

Sedangkan masalah kedua, si ibu itu bercerita, alangkah susah mencari orang yang ingin dilatih atau ditraining. Target beliau adalah pengemis, dan anak jalanan. Ibu itu hanya meminta kepada mereka yang tergolong kategori tersebut untuk mengikuti pelatihan dengan tujuan sebagai bekal yang bisa dijual kepada masyarakat, sehingga mereka bisa berwirausaha serta mendapatkan uang dari kemampuan mereka sendiri. Selain itu peserta yang dilatih juga dapat uang saku, tidak besar sih, hanya Rp. 10.000,-. Tetapi yang berprofesi sebagai pengemis, mereka malah memberi komentar, “Uang yang kami dapatkan sedikit !!”, begitulah kira-kira jika saya artikan ke bahasa Indonesia. Artinya apa, hasil yang didapat dari mengemis jauh lebih besar ketimbang uang ongkos pulang selama ikut training. Benar-benar pola pikir yang instan. Ada yang saya bisa terapkan jika disimpulkan dari pembicaraan masalah kedua ini, jika saya bertemu dengan tukang minta-minta dilampu merah, pertanyaan yang saya jawab jika alasan mereka minta uang karena belum makan adalah “yuk ikut saya ke dinas sosial, disana bisa ikut pelatihan🙂” .

Diakhir pembicaraan saya dengan ibu tersebut, ternyata beliau adalah saudara dari orang tua teman saya sesama SMA. Kembali lagi keluar istilah, Dunia selebar daun jengkol. Dan untuk menghilangkan rasa penasaran saya, kembali saya bertanya nama beliau. Sayang, saya tidak ada kamera untuk mengabadikan profil beliau. Thank ya bu, sudah berbagi pengalamannya, semoga lain waktu kita bisa berkolaborasi.

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s