One way trip to Batusangkar

Standard

Assalamu’alaikum

Tepat jam 3 sore tadi, saya berangkat dari Padang ke Batusangkar. Tujuannya sebagai Penguji Eksternal Tes Uji Kompetensi di SMK 1 Batusangkar. Perjalanan saya menggunakan bus dari PO. Setangkai, yang diawali dengan macet sepanjang jalan Tabing, Padang, yang disebabkan karena adanya kegiatan penambal jalan. Tidak ada yang cukup berarti selama jalan Tabing. Sampai pada saat bus menaikkan 2 orang pengaman jalanan. Mereka menyanyikan tembang lama yang klasik, tidak tanggung-tanggung, sampai 3 hit mereka dendangkan. Tidak salah memang jika penumpang menyumbangkan uang agak banyak kepada 2 orang pengamen tadi.

Setelah Kota Padang saya tinggalkan, kebanyakan waktu saya habiskan untuk tidur diatas bus. Masuklah ke Silayiang, daerah yang terkenal dengan air terjunnya. Tapi digapura objek wisata itu, malah tertulis, Air Manncur. Orang minang bilang air mancur itu adalah air mancucur (baca: aia mancucua) air yang keluar dari tanah, sehingga disebut mancucua. Pas tepat bus saya berhenti di dekat orang jualan pragede jagung. Dengan sigap, pedagang pragede memasuki bus, sambil menwarkan dagangannya. Saya pun membelinya 10ribu, saya kira sedikit, ternyata banyak. Malah saya sisakan sebagian didalam tas.

Ada yang menarik di Padang Panjang, selepas Silayiang. Salah seorang penumpang meminta ke supir via stokar untuk berhenti karena ingin buang air kecil. Tapi tidak terlalu ditanggapi supir. Supir tetap saja malajukan busnya. Mungkin karena tidak ditanggapi supir, si penumpang tersebut maju kedepan, tepat dibelakang supir dia mengulang kembali permintaannya. Sambil menunggu bus berhenti, penumpang yang ingin buang hajat tersebut duduk disamping saya. Dan bus pun berhenti di stasiun Padang Panjang. Ternyata bukan dia seorang saja yang ingin kebelet. Masih banyak lagi yang sangat membutuhkan WC. Rata-rata penumpang ingin buang air itu adalah ibu-ibu. Hmmm, mereka mungkin gengsi kali ya bilang kebelet.🙂

Sesampai di Padang Panjang, bus saya pun belok ke arah jalan yang memiliki Plang bacaan, Batusangkar. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga ditempat tujuan. Ternyata prediksi saya salah, Batusangkar itu harus melewati beberapa daerah dan kampung disekitar sana. Yang menarik bagi saya selama perjalanan menuju ke batusangkar adalah pemandangan padi yang menguning dan lahannya tersusun secara sengkedan. Ditambah padinya yang sudah mulai menguning. Sayang saya tidak ada kamera, sehingga tidak bisa mengabadikan keindahan pemandangan Batipuh ini.

Sekian dulu tulisan saya tentang One Way Trip to Batusangkar, sebab udanh kronis ini ngantuknya🙂

Wassalam

 

One thought on “One way trip to Batusangkar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s