Ada yang aneh

Standard

Assalamu’alaikum,

Ya, memang benar. Ada yang aneh. Anehnya ketika kota tempat saya menetap ini menjadi tidak seperti yang dulu lagi. Saya rasa memang begitu. Saya mulai ambil contoh dari sikap para pengendara lalu lintas dijalanan. Saya melihat dan merasa ada yang berubah dari mereka, atau mungkin saya. Perubahannya terletak pada emosi mereka yang cendrung marah, mementingkan diri sendiri, dan ingin lebih dahulu sampai tempat tujuan. Mari saya terangkan satu per satu :

  • Emosi yang cendrung marah,
    Waktu itu saya sedang berkendara ke kampus UNAND Limau Manis, sesampai diperempatan lampu merah Ketaping, saya melihat ada seorang bapak yang membonceng istrinya. Mereka datang dari sisi lampu merah satu lagi, tepat dari sebelah kanan menuju ke kiri. Disini lah letak masalahnya.
    Jelas-jelas saya melihat bapak itu menerobos lampu merah, karena lampu hijau telah menyala ditempat saya berhenti. Lalu karena masih ada mobil yang melitas dari depan menuju sisi sebelah kiri, yang merasa memiliki hak lampu hijau karena telah menunggu lama lampu merah, maka mobil kijang yang berada didepan barisan lampu merah saya pun harus berhenti untuk menuggu. Entah karena lengah atau apalah, si bapak pengendara motor yang menerobs tadi bersama istrinya menyerempet mobil kijang yang menunggu giliran lewat.
    Untung saja bapak bersama istri dan motornya langsung berhenti. Yang anehnya, ketika mobil kijang ini kembali jalan, si bapak malah mengejarnya. Mungkin merasa tidak senang. Terlihat si bapak mengikuti dan menghambat jalan mobil kijang. Istri si bapak kayaknya ikhlas aja, malah melarang menyusul mobil tersebut. Tapi mungkin rasa emosi yang memuncak kali ya, si bapak merasa harus buat perhitungan dengan pengemudi mobil kijang
  • Mementingkan diri sendiri,
    Kalau ini tidak usah ditanya lagi, sudah susah-susah si pejalan kaki melambaikan tangannya untuk menyeberang, tapi tetap saja para pengendara motor itu tidak mau berhenti. Begitu juga jika ada kendaraan lain, walaupun sudah susah-susah menghidupkan lampu sen, pasti mereka egois itu tetap mempertahankan laju motor di 70 km/jam.
  • Ingin lebih dahulu sampai tempat tujuan,
    Ini lah sebenarnya tujuan akhir mereka. Siapapun pasti punya tujuan ini. Tapi tidak dengan memacu kecepatan kendaraan. Terutama angkot. Mereka tidak mikir, siapa yang mereka bawa, yang penting siapa cepat, dia dapat.

Untuk sementara, inilah hal-hal yang saya rasa ada perubahan pada sikap masyarakat lalu lintas di Kota Padang.

Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s