Pesantren Ramadhan dimasa yang akan datang …

Standard

Assalamu’alaikum

Masih membahas Pesantren Ramadhan di Kota Padang. Seperti pada posting sebelumnya, kegiatan pesantren Ramadhan yang dipelopori oleh Walikota Padang ini masih punya bug alias kelemahan. Pesantren Ramadhan yang pastinya setiap kali diadakan pada bulan Ramadhan, serta targetnya adalah anak sekolahan dari tingkat SD (kelas 3 keatas), SMP, dan SMA ini masih tidak luput dari kritikan. Salah satunya kritikan dari saya, sebelumnya jangan diambil hati, karena kritikan saya hanya sebatas kritikan saja, tidak ada maksud merendahkan apalagi menganggap remeh panitia pesantren Ramadhan. Karena mereka telah berusaha keras mendidik generasi Islami bangsa ini, tapi dasar generasinya saja yang bobrok, didik bukannya jadi lebih baik, melainkan jadi lebih binal (berlaku hanya untuk beberapa orang yang melakoninya).

Saya melihat dan merasakan, setelah 7 tahun program ini berjalan, kayaknya moral (beberapa) anak sekolah di kota Padang ini tidak berubah-rubah, statis bahkan nyaris turun, yang meningkatpun hanya yang punya kesadaran saja, tidak sebanding dengan jumlah yang disebutkan sebelumnya. Bagaimana tidak, setiap kali berakhirnya program Pesantren Ramadhan ini, para panitia pesantren menutup kegiatan dengan mengadakan Muhasabah, dengan tujuan mengingatkan para peserta pesantren akan kesalahan-kesalahannya terdahulu dan berjanji serta insaf untuk tidak mengulanginya lagi.

Bagus memang, tapi coba kita lihat apa yang dirasakan kepada peserta yang telah mengikuti program ini semenjak ia SD kelas 3 sampai SMA kelas 1 (khususnya bagi anak yang sudah kronis bandelnya). Pastilah ia akan membayangkan bahwa disetiap akhir pesantren Ramadhan, pasti ada Muhasabah. Yang isinya pasti ceramah ustadz yang mengingatkan kesalahan-kesalahan kita terdahulu, dan pasti memaksa kita untuk bertaubat, lalu pasti memancing air mata kita keluar serta pasti mewajibakan kita untuk mencari orang tua yang hadir pada saat itu, agar langsung meminta ampunannya. Jika ini dilakukan berulang-ulang kali, pasti peserta pesantren akan merasa kebal, ibarat tanaman diberi peptisida, jika sering-sering dikasih, pasti hama tanamannya kebal dan akan tetap hidup untuk menggerogoti tanaman, begitu juga dengan Muhasabah ini. Dan bisa saja mereka berpikir, kenapa tidak mengeluarkan air mata buaya saja sewaktu meminta maaf kepada orang tua, agar beliau nanti percaya bahwa anaknya benar-benar bertaubat. Jika nanti berulang melakukan kesalahan, kan bisa minta maaf lagi. Seolah-olah minta maaf bukan barang yang sakral lagi, melainkan barang bebas dan dijual gratisđŸ˜¦.

Saran saya : kenapa panitia tidak mencoba Ru’yah. Ru’yah akan langsung tepat pada tujuannya. Jika ada yang dirasuki syetan atau jin jahat yang selama ini selalu bersama siswa-siswa yang melakukan kejahilan atau kejahiliahan, maka dengan mendengar Ru’yah, mereka akan langsung menggeliat tanpa sadar, dan hal ini juga memberikan efek terapi kepada peserta yang melihat, sehingga mereka takut melakukan dosa dan kejahatan setelah mengikuti pesantren Ramadhan ini lagi. Tapi ini cuma saran saja, semoga di kepemimpinan Walikota yang akan datang, program ini dapat terealisasiđŸ™‚ Amin. Namanya juga rakyat jelata.

Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s